Lokakarya Lingkungan di Pintu Gerbang Indonesia Barat

Ditulis oleh Super User. Posted in ClimateReporter

Laporan Hairil Hiar, Kieraha.com, Ternate, 5 Juli 2018

Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim (MPI) di Ternate Juli 2016 dan lokakarya Meliput Daerah Ketiga Angkatan Keempat (MDK IV) dengan tugas meliput dampak kebakaran gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, 24-28 Agustus 2016. Kedua lokakarya diselenggarakan Lembaga Pers Dr. Soetomo di Jakarta dan Kedutaan Norwegia. Tulisan di bawah ini telah dimuat di Kieraha.com dengan tambahan keterangan dalam ClimateReporter. Hairil berbagi pengalamannya mengikuti lokakarya keanekaragaman hayati di Medan.

Kamis 28 Juni 2018, pukul 14.30 WIT, langit di Ternate, Maluku Utara, mendung. Mendung menghantarkan saya, dari rumah ayah di Kelurahan Akehuda, Kecamatan Ternate Utara, menuju terminal Bandara Sultan Babullah.

Perjalanan udara kali ini adalah yang terjauh. Waktu beristirahat kala berada di dalam pesawat. Dua kali transit di bandara adalah sesuatu yang cukup melelahkan.

Penerbangan dari Ternate menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, ditempuh dengan waktu 1 jam lebih. Sambungan dari Makassar menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, makan waktu 2 jam 25 menit di udara.

Perjalanan ini kemudian saya lanjutkan  ke Bandara Internasional Kualanamu, Medan, dengan waktu 1 jam 10 menit.

Saat tiba di terminal bandara itu pukul 02.00 WIB, tak ada lagi Railink, kereta api bandara.

"Keretanya hanya sampai pukul 11, Mas," kata petugas bandara begitu disambangi di depan pintu masuk Kereta Api Bandara Kualanamu, Jumat (29/6/2018) dinihari.

Petugas itu lalu menawarkan jasa transportasi lain. Ia memberikan dua pilihan. Menumpangi bus Damri atau memesan mobil pangkalan bandara jenis Avanza.

Setelah bincang-bincang. Saya kemudian memilih untuk memesan mobil pangkalan. Paling tidak, itu yang paling aman dan cepat. Lima menit kemudian, sebuah mobil yang ia pesan berhenti di depan saya. Saya kemudian menaikinya menuju hotel.

 

Perjalanan saya dari Bandara Kualanamu menuju hotel tempat diadakannya Lokakarya Jurnalisme dan Keanekaragaman Hayati Indonesia ini ditempuh 1 jam lebih. Hotel tempat kegiatan merupakan hotel pertama di Kota Medan. Dahulu hotel ini diberi nama Hotel Darma Deli (sebelumnya De Boer) yang dibangun pada 1898.

Nama hotel bergaya kolonial ini disesuaikan dengan nama pemiliknya, Herman De Boer, salah seorang pengusaha asal Belanda. Meski begitu, bangunan salah satu cagar budaya di Kota Medan itu, saat ini berganti nama menjadi Hotel Grand Inna.

Ihwal Climate Tracker   

Lokakarya terkait Jurnalisme dan Keanekaragaman Hayati di Indonesia ini diadakan Climate Tracker. Sebelumnya sudah pernah digelar di Bandung, Jawa Barat, pada 2017. Sebanyak 14 peserta mengikuti pelatihan di Kota Medan ini.

Climate Tracker adalah organisasi jurnalisme dipimpin para pemuda dengan jaringan global lebih dari 7.000 jurnalis dan komunikator lingkungan. Berkantor pusat di Australia, Climate Tracker memiliki cabang di beberapa negara termasuk di Indonesia. 

Jaringan ini menciptakan kampanye media global yang strategis dan menyelenggarakan pelatihan jurnalisme perubahan iklim.  Climate Tracker mengangkat perubahan iklim dan isu lingkungan lainnya ke dalam debat publik di seluruh dunia. Climate Tracker telah melibatkan ribuan orang muda di seluruh dunia dan telah menerbitkan artikel di lebih dari 130 negara.

“Climate Tracker juga menyelenggarakan pelatihan untuk para penulis muda dan jurnalis, membangun keterampilan dan pengetahuan mereka tentang jurnalisme dan perubahan iklim. Climate Tracker percaya bahwa dengan dukungan yang tepat, siapa pun, terutama para pemuda, dapat menjadi suara yang kuat untuk aksi perubahan iklim dan isu lingkungan lainnya,” kata Chris Wright, direktur Climate Tracker.

Pelatihan jurnalisme lingkungan yang digelar selama tiga hari, dari Jumat pagi 29 Juni hingga Minggu, 1 Juli 2018 itu, menghadirkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya saya, dari Ternate, Maluku Utara. Empat belas peserta yang hadir ini karena memenangkan kompetisi menulis artikel tentang Deforestasi dan Keanekaragaman Hayati di daerah masing-masing dari 600 lebih peserta yang ikut mendaftar dalam kompetisi Climate Tracker 2018 ini.

Dari 14 peserta yang ada, hanya satu jurnalis yang sebelumnya sudah saya kenal di lokasi pelatihan Save The Children on Security Digital di Bogor, Jawa Barat, pada 2016. Ia adalah Shinta Maharani, peserta dari Jogjakarta, mewakili media Tempo.

Para penulis muda termasuk saya, begitulah kira-kira, yang memenangkan pelatihan beasiswa penuh 2018 ini diberikan pengetahuan instrumen untuk menjadi jurnalis kelas dunia melalui pembekalan intensif dari berbagai ahli dari dalam dan luar negeri. Demikian Chris Wright saat membuka lokakarya. 

"Kami mencari jurnalis muda dari Indonesia yang ingin membuat perubahan dengan menulis mengenai deforestasi di Indonesia serta dampaknya terhadap keanekaragaman hayati lokal," kata Chris melanjutkan di sesi awal pengenalan.

Lokakarya di Indonesia ini sudah dilakukan di beberapa negara. Di Indonesia, lokakarya di Medan ini adalah lokakarya kedua. Sebelumnya, Climate Tracker mengadakan lokakarya pertama di Bandung pada 2017.

Chris Wright yang merupakan warga negara Australia mendirikan Climate Tracker 2016. Namun, iam telah aktif dalam jurnalisme perubahan iklim global sejak 2010. Dengan beberapa anggota tim yang tersebar di berbagai penjuru dunia, Climate Tracker telah menginspirasi banyak penulis muda untuk menulis tentang isu lingkungan dan perubahan iklim.

Bahkan, di beberapa negara, tulisan yang dihasilkan jaringan Climate Tracker dapat mempengaruhi kebijakan di kota atau negaranya, misalnya menggagalkan dibangunnya pembangkit listrik batu bara dan meminta pemerintah untuk menggantinya dengan pengembangan energi terbarukan. 

“Hal ini merupakan salah satu inspirasi dan cerita sukses dari kekuatan penulis muda untuk membuat perubahan besar melalui karya jurnalisme,” ujar Chris.

Chris Wright bilang, hutan di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Peranannya krusial terutama dalam menyediakan kebutuhan esensial seperti makanan, air, udara, serta iklim yang sehat. Meskipun demikian, praktik penggundulan hutan besar-besaran masih terjadi yang dampaknya semakin mengancam keberlangsungan makhluk hidup yang bergantung pada hutan.

"Tren naik alihfungsi hutan untuk lahan perkebunan ini kian mengkhawatirkan, utamanya karena konsekuensi yang dapat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Karena itu, Climate Tracker menggelar pelatihan ini untuk membuat perubahan dengan menulis tentang praktik deforestasi, dan bagaimana dampaknya pada keanekaragaman hayati dan kehidupan masyarakat saat ini," ujarnya. 

Materi dan Pemateri

Materi pelatihan yang diberikan selama tiga hari itu meliputi pengelolaan hutan konservasi dan peranannya dalam menjaga keanekaragaman hayati, keanekaragaman hayati di Indonesia, teknik menulis lingkungan pendekatan data driven journalism, peran media dan hambatannya dalam mengawal isu lingkungan terkait keanekaragaman hayati di Indonesia, serta peliputan isu deforestasi. 

Beberapa pemateri dari Indonesia adalah Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Medan Dr Ir Hotmauli Sianturi, peneliti IPB Dr Fahmi Hakim, Direktur The Society of Indonesia Environmental Journalists (SIEJ) Aditya Heru Wardana, aktivis dan pecinta lingkungan Nabiha Shahab, serta pemateri asal Australia Chris Wright sendiri.

Pada sesi pelatihan itu, tim Climate Tracker juga memberikan beberapa materi yang langsung dipraktekkan oleh para peserta. Di antaranya materi tentang data driven journalism. Pada materi ini, Chris Wright mengenalkan beberapa tools kepada peserta. Model penulisan data jurnalisme gaya baru ini, seluruh peserta diberikan pemahaman tentang bagaimana mencari data di Internet. Setelah data didapat, peserta kemudian menganalisis datanya untuk kemudian dibuat dalam bentuk visualisasi data. 

Praktek serupa juga seperti tentang bagaimana menulis yang baik. Pada sesi ini, seluruh peserta diberikan waktu 15 menit untuk melakukan observasi di sekitar lingkungan hotel dan sekitar ruangan hotel tempat kegiatan. Materi ini diberikan oleh Aditya Heru Wardana, Direktur SIEJ. Setelah bahan observasi diperoleh, para peserta kemudian membuat dalam bentuk tulisan dua paragraf.

Medan merupakan ibu kota Sumatera Utara yang memiliki hubungan dengan isu hutan dan keanekaragaman hayati di Indonesia. Alasan ini menjadi dasar bagi Climate Tracker mengadakan lokakarya tersebut di kota berjuluk pintu gerbang Indonesia bagian Barat itu.

Selesai pelatihan, semua   peserta dinyatakan lulus dan menerima sertifikat pelatihan yang diberikan langsung Chris Wright. Para peserta diminta untuk menulis minimum satu artikel terkait deforestasi dan keanekaragaman hayati. Beberapa peserta yang dapat mempublikasikan karya jurnalisme dengan pengaruh tertinggi akan menerima beasiswa online untuk menulis beberapa artikel lagi. Setelah itu, akan dipilih dua peserta yang paling tepat untuk dikirim meliput konferensi global keanekaragaman hayati di Mesir pada November 2018.

Apa manfaat lokakarya Climate Tracker ini?

Christopel Paino, kloter (kelompok terpilih) pertama Climate Tracker di Indonesia pada 2017, mengemukakan kegiatan Climate Tracker ini menambah sudut pandang baru dalam penulisan artikel lingkungan.

 

“Pentingnya pengetahuan menjaga hutan di Indonesia ini perlu didalami oleh setiap jurnalis dan penulis lingkungan. Supaya masyarakat kita tahu bahwa kerusakan hutan besar-besaran akan menyebabkan terganggunya ekosistem yang lain, termasuk keanekaragaman hayati yang bergantung hidup di sekitar.” Demikian Christopel, koresponden Mongabay Indonesia di Gorontalo. Ia alumnus lokakarya Meliput Perubahan Iklim (MPI) Lembaga Pers Dr. Soetomo di Gorontalo Maret 2016 dan juga Meliput Daerah Ketiga Angkatan Keempat (MDK IV), travel fellowship LPDS, dengan tugas meliput lingkungan Balikpapan, Kalimantan Timur, Agustus 2016.

Christopel  berharap lokakarya yang digelar kedepannya lebih ditingkatkan lagi. Paling tidak ada praktek langsung untuk peserta ke lokasi yang erat hubungannya dengan isu hutan dan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Berikut adalah 14 nama peserta jurnalis dan penulis lingkungan yang terpilih dalam kompetisi tersebut. Mereka adalah Sapri Maulana dari Samarinda, Hamid Arrum Harahap dari Medan, Dinda Lisna Amilia dari Surabaya, Shinta Maharani dari Jakarta, Ratna Tesalonika dari Sumedang.

Kemudian Mohamad Wahyu Syafiul Mubarok dari Surabaya, Desi Badrina dari Aceh, Pradipta Dirgantara dari Bandung, Muhamad Antoni dari Bengkulu, Ida Lestari dari Lampung, Bhekti Suryani dari Yogyakarta, Dwiki Ridhwan dari Bandung, Tantia Shecilia dari Riau, dan Hairil Hiar dari Ternate.

Hasil karya liputan dari keempat belas peserta lokakarya tentang jurnalisme dan keanekaragaman hayati yang lolos di Medan ini dapat dibaca dengan klik di sini.


Editor: Warief Djajanto Basorie